Reza kaget amat sangat ketika berangkat sekolah dan sedang asyik-asyiknya berkendara naik sekuter tahun tujuhpuluhan pinjaman dari ayahnya, tiba-tiba dari samping sebelah kiri wuuussss motor bebek merah keluaran tahun mutakhir menyalib tanpa membunyikan klakson, hati laki-lakinya langsung panas, mendadak terasa seperti koyak bajunya, dan yang membuatnya lebih parah melebihi si Komeng dan Deddy Mizwar adalah karena yang barusan menyalib itu cewek, soalnya helmnya merah jambu dan ada kupingnya.
“Kamu pasti Lia, cewek jutek paling nyebelin” itu kata hatinya yang panas membara, tapi kata otaknya, “ Lia anak tiga sepuluh, yang nama lengkapnya Amelia Wulandari itu memang cantik dan manis, terutama lesung pipitnya”, Tapi yang jelas terlontar dari mulut Reza adalah “Sialan lo”!” mulutnya bersungut malu karena tak mampu mengejar motor yang dimaksudkan.
Dalam sekejap motor bebek merah keluaran tahun mutakhir sudah jauh dari pandangan dan sebagaimana mestinya sekuter tua biru abu-abu telor bebek tetap merayap lambat mengantarkan si pengendara semampunya.
Mau protes ke ayah tidak tega, karena demi menaikkan harkat anaknya yang sudah kesekian kali memohon untuk dipinjami, sang ayah hari ini rela naik angkutan umum untuk pergi mengajar ke SD di sebelah kantor kecamatan.
“Yah tolong deh hari ini Reza pinjam motor ayah, temanku ada yang ulang tahun, jadi pengin dong, sekali-kali pergi rame-rame bawa motor sendiri”, padahal hari ini tidak ada temannya yang akan ulang tahun, yang jelas benar hari ini akan ada ulangan matematika dari pak Walijan yang sekaligus juga wali kelas Reza.
Akan halnya ayahnya, dia tidak ingin dan tidak perlu tahu apakah hari ini ada yang ulang tahun, ataukah hari ini ada ulangan matematika pak Walijan, yang dia tahu, sebagai seorang ayah tak akan mampu mencegah kemauan Reza anaknya, karena dalam hati memaklumi dan mengerti, umur seusia anaknya memang lagi masa-masanya ingin mengaktualisasikan diri siapa dia.
Walaupun hanya sekuter tua tahun tujuhpuluhan namun termasuk juga sepeda motor, jadi dia maklum kalau anaknya ternyata menarik garis pembatas bagi dirinya dengan teman-teman yang lain,
Dia merasa bahwa dia masih masuk kedalam garis anak yang punya sepeda motor, jadi masih bisa merasa bangga dibandingkan dengan anak yang tidak punya sepeda motor.
Dengan kesimpulan itu Reza menempatkan diri sebagai salah satu dari komunitas “yang punya sepeda motor”, maka dia pun mesti mulai bergaul dengan teman yang dianggap segaris.
Dan ternyata benar walaupun hanya sekuter tua, namun mampu menambah rasa percaya diri (PD) nya, jalannya menjadi semakin tegak dan apa yang diharapkan ternyata benar, Andy yang kesekolah naik motor bebek matic warna hitam keluaran tahun dua ribuan terbukti langsung menyapanya, waktu ketemu ditempat parkiran samping gerbang.
“Eza!, lo barusan naik motor juga ya?”.
“iya tuch!, sekuter tua punya babe, jalannya ngerayap dan suka ngadat lagi!”.
“Jangan under estimate lo, siapa tau motor elo bawa hoki, barusan si Lia anak tiga sepuluh nanyain elo ke saya!..”
“ Ah yang bener aja!.. “ Reza setengah tak percaya, masa iya si Lia tahu kalau dia naik motor,. masa iya Lia anak lain kelas yang terkenal jutek dan sombong itu perhatian ama gue, jangan-jangan yang tadi nyalib itu bener-benar dia, perasaan Reza berkecamuk antara percaya dan tak percaya.
Reza tak sabar ingin membuktikan kata-kata Andy, begitu ulangan matematika selesai dan bel istirahat berbunyi, bergegas Reza keluar dan memacu langkahnya mencari Lia, menurut kebiasaannya cewek semacam Lia dan teman-temannya, jam istirahat ini sudah ada di kantin baso ceker mas Parmin, penjaga sekolah.
“Hai Lia..!” dari jauh sudah terbayang dikepala Reza, ingin mengatakan itu pada Lia dengan bibir mengembang penuh arti.
“Hai juga… Aduhh Reza makin ca’em aja lho.. kamu sekarang sekolah pakai motor ya!!?.. “ dan itu juga bayangan perkiraan jawaban yang akan diterima dari Lia si Jutek yang kini menyerah didepan si Telor Bebek
Namun belum sempat Reza melanjutkan lamunan dan mengeluarkan rangkaian kata-kata yang direncanakan, tiba-tiba dari balik pagar pohon Beluntas dekat kamar mandi, muncul cewek-cewek berwajah aneh dan nyinyir., lalu si jutek Lia beserta gangnya keluar dengan angkuhnya,
Paduan suara gang nya yang sumbang alias cempreng keras melengking seperti koor nenek2 sihir
“Se..ku..ter, !!.. ………. : .Selebritis kurang terkenal…..
“Te..lor.. Be..Bek,.!!! …..: Terus molor dan Belagak Beken!!”,…
“ huuuuuuuuuuuuuuuuuuu !!!.
Seperti terkena sambaran geledek, dada yang tadi dibusungkan menjadi terengah, nafasnya tersendat,, “Goblok lo Andy ngerjain gue”
wajah Reza yang tadi telor bebek mendadak berubah menjadi merah jambu (monyet).
3 Jam sesudah itu, waktu sepulang sekolah walaupun hati dan perasaan masih panas akibat ulah Lia Jutek dan gangnya tadi siang, Reza tetap mencoba menangani semua masalahnya sesuai dengan kemampuannya.
Malahan sekuter telor bebek tahun tujuhpuluhan itu, kini dipacu dalam kecepatan sedang, dan sedikit santai, teriknya mentari terkalahkan oleh terpaan angin yang menyapu tubuhnya, getaran lengan bajunya yang terkena angin samping seperti menyemburkan hawa dingin dan sekaligus mengibaskan keinginan balas dendamnya terhadap Lia Jutek beserta gangnya “Biarin saja lah, semuanya pasti akan berlalu” pikirnya dalam hati.
Sedang enak-enaknya menggembalakan pikirannya, tiba-tiba agak jauh didepannya kira-kira hampir mendekati persilangan kereta api, dilihatnya banyak orang bergerombol “ada apa ya. ?”
Setelah hampir mendekati kerumunan orang, Reza segera memparkirkan motornya dan mendekati arah peristiwa yang menjadi pusat pehatian orang-orang. ” Astaga……”
Demi Tuhan, yang dilihatnya adalah Lia, mata Reza memang tidak salah, itu adalah Lia si jutek orang yang tiga jam lalu memperoloknya didepan kantin bakso ceker mas Parmin dengan kata-kata “Sekuter Telor Bebek”.
Dan yang paling membuatnya heran setengah mati, Lia si jutek kini tengah berdiri dengan wajah merah padam karena malu, disamping malu karena di kerumuni banyak orang, terutama juga karena bajunya berlepotan cairan kuning kental diseluruh bagian seragam sekolahnya, rupa-rupanya, ban motor Lia jutek tergelincir masuk ke alur rel yang melintas jalan, dan entah karena apa, setangnya menjadi tidak terkendali, dan menabrak sepeda tukang telor bebek yang diparkir ditepian jalan karena pemiliknya menagih ke kios seberangnya, tak pelak lagi telor bebek dikeranjang sepeda pada pecah dihajar bodi motor bebek Lia, dan tak ampun lagi meskipun tidak sampai mengalami luka yang berarti, tapi cairan telor berhamburan menyiram seragam putih abu-abunya, wajahnya pucat dan kebingungan .
Demi melihat kejadian itu Reza seketika ingin membalas sakit hati bekas kejadian tadi pagi, namun setelah melihat wajah Lia si jutek yang kini pucat pasi dia jadi tidak tega, dan ketika kemudian dilihatnya sudah ada beberapa warga dan seorang Polwan yang mengurusnya, Reza segera pergi dari tempat itu, Reza tak ingin Lia melihatnya, bagaimanapun juga Lia sangat manis dan memikat hati, diam-diam Reza pergi, mulutnya tetap terkunci tapi hatinya bersiul.
Keesokan harinya Reza kesekolah tidak naik sekuter telor bebek, tetapi kembali seperti biasa lagi, yaitu naik angkot, tapi meskipun demikian, ketika waktu istirahat datang, hatinya mantap sekali mendekati Lia si Jutek beserta gangnya di dekat pagar pohon beluntas dekat kamar mandi didepan kantin baso ceker mas Parmin, kepalanya menyimpan rencana.
Ketika dirasa sudah sangat dekat dengan posisi Lia si Jutek dan gangnya, terdengar suara Reza yang diawali batuk-batuk .
“ Ehm Ehm … Telor Bebek dipinggir Rel Kereta!…”.
“Jelasss! Deeeh! berlepotannn! ….Ehm.. ehm..”.
Seketika Lia si Jutek beserta gangnya diam seribu bahasa, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, sangat berlawanan sekali dengan bunyi koor seperti yang kemarin itu.
Dan entah mantra apa yang dibacakan oleh Reza terhadap Lia, tetapi fakta membuktikan tiga hari terhitung hari itu, Andy menegur Reza didepan pintu ruang kelasnya
“Eza gua gak salah liat nih!, kamu tadi ngeboncengin Lia ya??!”
Reza tak menghiraukan pertanyaan Andy, juga guru matematika alias pak Walijan yang baru saja masuk ruang kelas, karena masih asyik merasakan kehangatan tubuh Lia yang menempel ditubuhnya lima menit yang lalu.
(JOE.MD)
Komentar Terakhir