Oleh: korawa2 | Desember 14, 2011

Sya’ir Al-i’tiraf Abu Nawas

الاعْتِرَافُ

إِِلَهِِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

إِِلَهِِيْ عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ  # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

——–

Pengakuan :

Wahai Tuhanku, aku tidaklah pantas menjadi ahli surga # Tapi aku pun tidak kuat masuk kedalam api neraka

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku # Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

Dosaku bagaikan bilangan pasir # Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

Dan umurku ini berkurang setiap hari # Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Wahai Tuhanku, Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu # Mengakui atas segala dosa dan sebenar-benarnya telah memohon kepada Mu

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun # Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

—–

Klik : Liric yg disampaikan Gus Dur

(Note : Gubahan Abu Ali Al-Hasan ibnu Hani Al-Hakami, dengan nama samaran Abu Nawas.  Ulama besar termasyhur masa Khalifah Abasiyah Harun Al-Rasyid ).

Ref. : https://iqbal1.wordpress.com/2011/12/10/catatan-syair-al-itiraf-abu-nawas-oleh-gus-dur/

Oleh: korawa2 | Desember 29, 2010

Kisah : ‘Pelarian’ Para Ahli Dirgantara

Pada 2010, bukannya tak mungkin Malaysia menyalip Indonesia dalam teknologi aerospace. Jika ditanya siapa tangan dingin yang turut melepaslandaskan teknologi penerbangan negeri jiran itu? Jawabnya, dalam kadar tertentu, adalah putra-putra Indonesia. Dan, semuanya dimulai dengan rontoknya Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), kini PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

PHK besar-besaran yang mendera IPTN beberapa tahun lalu, hingga menyisakan hanya 3.000-an karyawan, memicu brain-drain para eks pekerja IPTN ber-skill tinggi hijrah ke berbagai negara. Ada 20 orang eks-IPTN di Eropa, 10 orang di AS, 15 orang di Kanada, dan 15 orang di Korea. Jumlah yang cukup besar, yakni 35 orang, justru berada di Malaysia.

`’Merekalah yang kini berkontribusi terhadap kemajuan teknologi aerospace Malaysia,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Prof Said Djennie, beberapa waktu lalu. Said sendiri adalah guru besar tamu di Malaysian Institute of Aerospace Technology. Namun, ia menolak dikontrak 10 tahun bekerja di situ, dan hanya memilih sebagai visiting professor.

Tapi, inilah dilema bagi para `anak-anak dirgantara’ — sebutan bagi para anak buah BJ Habibie semasa memimpin IPTN. Sebab, kata Said, jika para eks-IPTN ini disalahkan lantaran turut mengembangkan kedirgantaraan Malaysia, mereka pun patut bertanya, ”Kami bisa apa di sini (di Indonesia)?” kata Said.

Permasalahannya ternyata bukan sekadar soal periuk nasi, tapi juga aktualisasi diri. ”We need food and also our intellectual. Bukan cuma (tubuh) kita yang membutuhkan makanan, intelektualitas kita juga memerlukan makanan. Kita butuh menciptakan karya-karya baru. Dan, Malaysia memberi kesempatan untuk itu,” tutur Said.

Jika benar Malaysia akan lebih superior pada 2010, seperti dikatakan Said Djennie, ini bakal menjadi ironi. Sebab, pada Juni 1988 helikopter Super Puma pertama produksi IPTN justru diekspor ke Malaysia. Akankah kelak roda nasib berputar cepat: suatu saat giliran Malaysia yang mengekspor pesawatnya ke Indonesia?

Di tengah seretnya modal kerja, pesanan sebetulnya masih mengalir ke PT DI, antara lain, dari TNI dan beberapa customer luar negeri. Nah, salah satu proyek yang akan dihidupkan kembali setelah sempat mengalami `mati suri’ adalah proyek pesawat Nusantara (N)-250 yang sudah memasuki tahap prototipe.

Islamic Development Bank (IDB) digandeng untuk mendanai review N-250. Menghabiskan 200 ribu dolar AS, hasil review menunjukkan biaya operasional pesawat N-250 revisi (N-250-R) kelak bakal lebih murah 10-20 persen ketimbang pesawat sejenisnya. Pesawat komuter itu kelak akan digunakan untuk memasok pasar domestik. Selain itu, bakal ada sejumlah penyederhanaan sistem dan desainnya.

Proyek ini, menurut Said, digagas sejak masa pemerintahan Megawati. Usai pergantian pemerintah, Said, selaku ketua tim review, telah melaporkan kebutuhan dana pengembangan N-250-R yang ditaksir mencapai 120 juta euro. `’Sayangnya belum ada respons dari pemerintah hingga detik ini. Padahal, program review ini pemerintah yang minta,” ungkap dia.

Untungnya belakangan investor Arab Saudi mengaku tertarik mendanai proyek N-250-R. Hanya, mereka meminta syarat agar prototipe ini dites di AS. Said pun memanggil tim auditor dari AS. Laporan tim audit tersebut diterima sekitar 3 bulan lalu. Hasilnya? Mereka menyatakan bahwa status N-250-R sebagai very-very good realiable and visible. Menurut dia, penilaian tersebut membuat investor kaget.

Mereka pun kian serius. Saat ini proses negosiasi masih berlangsung, salah satunya membahas soal hak kekayaan intelektual produk N-250-R yang notabene milik Pemerintah Indonesia. `’Sebab Arab Saudi nanti dapat apa? Ini yang sedang dibahas,” ujar Said yang juga anggota dewan komisaris PT DI.

Soal kemampuan, kata Said, para insinyur-insinyur Indonesia tak perlu diragukan. Sedikit menoleh ke belakang, pada 1986 IPTN memperoleh kontrak 10 tahun dari General Dynamics untuk memproduksi 3.462 komponen air-frame dari F-16 (Fighting Falcon) senilai 57 juta dolar AS. Kontrak serupa diperoleh dari Airbus pada Desember 1989 setelah Garuda membeli sembilan unit A-330s.

Pada Maret 1987, IPTN meneken kontrak dengan Boeing untuk membuat 8.000 komponen air-frame Boeing 737, yang dilanjutkan dengan kontrak serupa pada Oktober 1988 senilai 30 juta dolar AS untuk Boeing 767. IPTN telah menjadi perusahaan subkontraktor tepercaya bagi pabrik pesawat terbang sipil terbesar di dunia itu.

Menurut Said, kemunduran yang didera IPTN memang tak bisa dilihat dari kacamata hitam putih. Sejak IPTN didirikan pada 1976, industri ini ditetapkan harus melewati empat tahap yang memakan waktu 20 tahunan atau lebih agar mereka mampu lepas landas dan kelak mandiri. Sayangnya, belum lagi tahap development IPTN rampung, krisis moneter keburu melanda Indonesia pada 1997.

Apakah PT IPTN, atau kini PT DI, sebuah industri yang menguntungkan? Francois Raillon dalam Indonesia 2000 menyatakan kita perlu hati-hati dalam mengukur industri pesawat terbang. Tak satu pun perusahaan dirgantara di dunia yang benar-benar untung jika mengacu pada kriteria accounting yang sempit. Dari 28 program aeronautic yang diluncurkan sejak 1945, hanya dua program yang menggangsir keuntungan yakni pesawat Boeing 707 dan Boeing 727.

Jika hanya menerapkan standar keuangan biasa untuk mengukur performa ekonomi industri pesawat terbang, itu bakal berujung pada irelevansi. Ada dua aspek yang patut diperhitungkan dalam perhitungan keuntungan industri ini, yakni aspek strategis dari industri high-tech dan trickle down effect teknologi pesawat terbang. (***)

Ref. :  http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=311287&kat_id=3

Oleh: korawa2 | November 19, 2010

Saguling : Munggahan 2010

This slideshow requires JavaScript.

Oleh: korawa2 | Desember 16, 2009

Korawa di Curug Malela (2)

Oleh: korawa2 | Desember 16, 2009

Desnitasi Curug Malela

Desninasi sangat melelahkan untuk mencapai lokasi curug ini, tapi dapat terobati dengan pesonanya … Silakan mampir baraya…

Oleh: korawa2 | Desember 16, 2009

Korawa di Curug Malela

Oleh: korawa2 | Desember 4, 2009

E – Curug Malela, Lebih dari Sekadar Wisata

oleh : Budi Brahmantyo

MENJELAJAH Cekungan Bandung dengan gunung-gunung di sekelilingnya memang tidak ada habis-habisnya. Satu objek terkunjungi, objek lain sudah gugupay mengundang untuk datang. Banyak lokasi wisata air terjun di sekitar Bandung sudah dikunjungi dan Curug Malela mengundang kepenasaran untuk menyambanginya.

Curug Malela berada di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cianjur di barat laut Bandung. GPS menunjukkan posisi koordinat S07*00’38.1″ E107*12’22.0″ di atas batu tempat memandang keindahan curug itu. Seperti ditulis di banyak situs blog pribadi, situs pariwisata, atau situs resmi Perhutani, maupun Pemkab Bandung Barat, air terjun ini memang mengagumkan.

Berdasarkan peta topografi, sungai yang jatuh sebagai Curug Malela setinggi lebih kurang 50 m dan lebar mencapai 70 m, adalah Cicurug. Toponimi sungai yang sesuai dengan sifat sungai ini yang banyak mempunyai air terjun. Hulu sungai berasal dari lereng utara Gunung Kendeng dengan bekas kaldera raksasanya yang berdiameter hampir 15 km. Dari gunung api yang terletak di sebelah barat Ciwidey yang telah mati ini mengalir jaringan Sungai Cidadap. Cidadap mengalir ke arah barat laut melalui Kecamatan Gununghalu menggerus rangkaian batuan keras yang umumnya berciri produk letusan gunung api tua.

Aliran Cidadap setelah melewati utara Bunijaya, kemudian mengalir dengan pola rektangular, yaitu suatu pola aliran sungai yang berbelok-belok secara tajam, bahkan tegak lurus. Alirannya ke arah barat yang kemudian bernama Cicurug mulai memasuki relief sangat terjal di suatu dataran tinggi yang dulu dinamakan Plateau Rongga.

Suatu keniscayaan bagi sungai yang mengalir di atas plateau untuk kemudian pola alirannya terganggu oleh air terjun yang bertingkat-tingkat. Itulah yang terjadi pada aliran Cicurug. Selain Curug Malela yang terbesar, ke arah hilir terdapat beberapa tingkat air terjun yang dinamakan Curug Katumiri dan Curug Ngebul, sebelum sungai ini bermuara ke Cisokan.

Relief terjal Plateau Rongga memberikan medan terjal dengan lembah-lembah membentuk huruf V yang berkemiringan lebih dari 100% atau bersudut lebih dari 45 derajat. Itulah mengapa pengistilahan “dataran tinggi” menjadi kurang tepat karena jika kita menuju wilayah ini, kita akan menghadapi jalan yang turun naik berkelok-kelok. Di atas plateau ini ketika sungai-sungainya mengerosi daerah secara vertikal, lereng-lereng lembah selain menciptakan medan yang terbatas untuk dijelajahi, tapi dari sisi yang lain menciptakan lanskap yang memesona mata.

Beberapa puncak plateau mencapai ketinggian di atas 1.000 m di atas muka laut rata-rata membuat udara pada Plateau Rongga umumnya sejuk. Tata guna lahan adalah perkebunan dan hutan. Sejak zaman Belanda, wilayah ini diperuntukkan bagi perkebunan teh yang sekarang dikelola oleh PTP Nusantara VIII Montaya.

Batuan yang membuat relief menjadi terjal dan kasar itu adalah batu breksi dan konglomerat berumur Miosen Atas, kira-kira diendapkan pada lingkungan peralihan darat dan laut pada waktu 10 hingga 5 juta tahun yang lalu. Sumbernya diperkirakan beberapa gunung api purbakala di selatan Jawa Barat yang aktif pada masa itu. Jenis batuan ini yang di Curug Malela sendiri tampak berlapis-lapis, bersifat sangat keras. Kesan yang timbul dari kerasnya batuan dapat dilihat dari morfologi batuannya yang memperlihatkan dinding-dinding tegak yang licin. Itulah yang nampak pada dinding Curug Malela yang terlihat begitu kokoh dan anggun.

Keanggunan air terjun yang dalam foto kecepatan rendah memberikan kesan seperti benang- benang sutra halus, tidak dimungkiri telah menawan hati dan pandangan mata siapa yang datang mengunjunginya. Jika hari tidak keburu gelap, kita akan seharian duduk tanpa bosan-bosannya menyaksikan fenomena alam yang luar biasa ini.

Akan tetapi jangan ke Curug Malela jika Anda ingin berwisata! Bahan bacaan yang ada di situs-situs memang memberitakan keindahan Curug Malela. Bahkan sejak tahun 2006, beberapa media memuat pernyataan-pernyataan pejabat pariwisata yang memuji-muji potensi yang luar biasa ini. Kenyataannya, akses jalan yang seharusnya mulus menuju objek yang diunggulkan ini membuat pengendara frustrasi pada kunjungan pertama.
Ketiadaan penunjuk arah sejak Kota Kecamatan Gununghalu membuat kita selalu bertanya kepada penduduk yang dilalui. Memang betul malu bertanya sesat di jalan, tapi kalau terlalu banyak bertanya karena ketiadaan penunjuk arah, pengelola daerahlah yang sesat di jalan birokrasinya. Jadi setelah banyak bertanya, jalan akan mengarahkan kita ke arah Bunijaya dan berbelok ke arah kanan di daerah yang dikenal sebagai Simpang Rongga. Jalan kemudian berkelok-kelok menyempit menanjak. Sekalipun beraspal baik, tapi lubang-lubang besar membuat kelancaran perjalanan terganggu.

Di Kota Kecamatan Rongga, kita kembali dihadapkan pada persimpangan jalan dan terpaksa kembali bertanya. Jalan ke kiri yang diambil akan membawa kita ke daerah Kubang, Perkebunan teh Montaya. Jalan perkebunan asri yang diapit pohon-pohon mahoni dan damar membawa kita memasuki daerah perbukitan yang turun-naik berkelok-kelok pada jalan sempit. Beberapa kali kendaraan kita dapat langsung berhadapan pada kelokan sempit dengan kendaraan lain, atau terkejut ketika tiba-tiba pengendara ojek muncul di depan hidung kita dengan tiba-tiba.

Perjalanan dari Gununghalu ke Kubang Montaya yang hanya berjarak kurang dari 20 km terpaksa harus ditempuh antara 1,5-2 jam perjalanan kendaraan roda empat, dengan banyak bertanya. Dari Simpang Kubang ke arah Cicadas kita akan didera jalan batu yang berlubang-lubang. Perlu waktu hampir satu jam menempuh jarak pendek tidak lebih dari 3 km itu.

Sesampainya di Cicadas bukan berarti Curug Malela telah ada di depan kita. Jalan berikutnya berupa jalan perkebunan yang tidak dapat dilalui mobil biasa harus ditempuh dengan cara jalan kaki. Perlu waktu kira-kira satu jam untuk akhirnya mencapai Curug Malela setelah menuruni jalan setapak terjal dengan beberapa lereng hampir 70 derajat.

Sangat melelahkan. Silakan bayangkan jalan kembali melalui rute yang sama. Sejak 2006 atau 2007, Pemerintah Kabupaten Bandung yang kemudian dilanjutkan oleh Bandung Barat telah menyatakan akan mengelola destinasi potensial ini. Hingga 2009 akses jalan kelihatannya sudah diperbaiki (sekalipun kembali berlubang-lubang), tetapi menyisakan hampir 5 km yang sangat menyiksa dan membuat frustrasi wisatawan.

Persoalan yang dilontarkan sangatlah klasik, yaitu kekurangan anggaran dan menunggu investor !

Dari sisi lingkungan, sebenarnya Curug Malela sangatlah rentan terhadap pencemaran. Jaringan hulu Cicurug yang berasal dari Cidadap melewati kota-kota kecamatan yang cukup padat, seperti Gununghalu dan Bunijaya. Sepanjang alirannya di wilayah permukiman Kecamatan Gununghalu, lembah Sungai Cidadap menjadi tempat pembuangan sampah, terutama dari rumah-rumah yang tumbuh di tepi sungai. Sampah-sampah itu terbawa aliran Cidadap untuk kemudian ikut jatuh di Curug Malela. Jangan heran jika di lereng-lereng bawah dekat air terjun itu kita akan mendapati tumpukan sampah-sampah plastik, sandal jepit, atau styrofoam.

Itulah Curug Malela yang memberi berjuta pesona, tetapi sayang sekali tidak terkelola dengan baik, selain juga munculnya ancaman pencemaran sampah. Jadi kalau ingin berwisata, jangan ke Curug Malela, kecuali jiwa kepetualangan Anda yang terus memanggil karena pesona curug ini dapat mengalahkan hambatan aksesibilitas yang memprihatinkan.

(Budi Brahmantyo, Kepala Pusat Kepariwisataan ITB, dosen KK Geologi Terapan, FITB, ITB ; Koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung, anggota IAGI) *** Pikiran Rakyat 3 Agustus 2009

Silisilah-Nabi SAW-IqbalSebuah tangis bayi yang baru lahir terdengar dari sebuah rumah di kampung Bani Hasyim di Makkah pada 12 Rabi’ul Awwal 571 M. Bayi itu lahir dari rahim Aminah dan langsung dibopong seorang “bidan” yang bernama Syifa’, ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf. “Bayimu laki-laki!”. Aminah tersenyum lega. Tetapi seketika ia teringat kepada mendiang suaminya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang telah meninggal enam bulan sebelumnya. Ya, bayi yang kemudian oleh kakeknya diberi nama Muhammad (Yang Terpuji) itu lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya meninggal di Yatsrib ketika beliau berusia tiga bulan dalam kandungan ibundanya.

Kelahiran yang yatim ini dituturkan dalam Al-Quran, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” — QS Adh-Dhuha (93): 6.

Aminah, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak, Barakah Al-Habsyiyah (Ummu Aiman). Sementara sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu, bayi yang dilahirkan disusukan kepada wanita lain. Khususnya kepada wanita dusun, supaya hidup di alam yang segar dan mempelajari bahasa Arab yang baku.

Ada hadits yang mengatakan, kebakuan bahasa warga Arab yang dusun lebih terjaga. Menunggu jasa wanita yang menyusui, Aminah menyusui sendiri Muhammad kecil selama tiga hari. Lalu dilanjutkan oleh Tsuwaibah, budak Abu Lahab, paman Nabi Muhammad, yang langsung dimerdekakan karena menyampaikan kabar gembira atas kelahiran Nabi, sebagai ungkapan rasa senang Abu Lahab.

Air Susu yang Melimpah

Beberapa hari kemudian, datanglah kafilah dari dusun Bani Sa’ad, dusun yang jauh dari kota Makkah. Mereka menaiki unta dan keledai. Di antara mereka ada sepasang suami-istri, Harits bin Abdul Uzza dan Halimah As-Sa’diyah. Harits menaiki unta betina tua renta dan Halimah menaiki keledai yang kurus kering. Keduanya sudah memacu kendaraannya melaju, tetapi tetap saja tertinggal dari teman-temannya.

Halimah dan wanita lainnya yang datang ke Makkah sedang mencari kerja memberi jasa menyusui bayi bangsawan Arab yang kaya. Sebagaimana dalam kehidupan modern, baby sitter akan mendapatkan bayaran yang tinggi bila dapat mengasuh bayi dari keluarga kaya.

Sampai di kota Makkah, Halimah menjadi cemas, sebab beberapa wanita Bani Sa’ad yang tiba lebih dulu sedang ancang-ancang mudik karena sudah berhasil membawa bayi asuh mereka.

Setelah ia ke sana-kemari, akhirnya ada juga seorang ibu, yaitu Aminah, yang menawarkan bayinya untuk disusui. Namun ketika mengetahui keadaan ibu muda yang miskin itu, Halimah langsung menampik.

Dia dan suaminya berkeliling kota Makkah, tetapi tidak ada satu pun ibu yang menyerahkan bayinya kepadanya untuk disusui. Ya, bagaimana mereka percaya, seorang ibu kurus yang naik keledai kurus pula akan mengasuh dengan baik bayi mereka?

Hampir saja Halimah putus asa, ditambah lagi suaminya sudah mengajaknya pulang meski tidak membawa bayi asuh. Namun, ia berkata kepada suaminya, “Aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Alangkah baiknya kalau kita mau mengambil anak yatim itu sambil berniat menolong.”

“Baiklah, kita bawa saja anak yatim itu, semoga Allah memberkahi kehidupan kita,” ujar suaminya. Setelah ada kesepakatan tentang harga upah menyusui, Muhammad kecil diberikan kepada Halimah. Wanita kurus kering itu pun mencoba memberikan puting susunya kepada bayi mungil tersebut.

Subhanallah! Kantung susunya membesar, dan kemudian air susu mengalir deras, sehingga sang bayi mengisapnya hingga kenyang. Dia heran, selama ini susunya sendiri sering kurang untuk diberikan kepada bayi kandungnya sendiri, tetapi sekarang kok justru berlimpah, sehingga cukup untuk diberikan kepada bayi kandung dan bayi asuhnya?

Berbarengan dengan keanehan yang dialami Halimah, suaminya juga dibuat heran, tak habis pikir, mengapa unta betina tua renta itu pun tiba-tiba kantung susunya membesar, penuh air susu.

Halimah turun dari. keledainya, dan terus memerah susu itu. Dia dan suaminya sudah dalam keadaan lapar dan dahaga. Mereka meminumnya sehingga kenyang dan puas. Semua keajaiban itu membuat mereka yakin, “Anak yatim ini benar-benar membawa berkah yang tak terduga.”

Halimah menaiki dan memacu keledainya. Ajaib! Keledai itu berhasil menyalip kendaraan temannya yang mudik lebih dulu.

“Halimah! Halimah! Alangkah gesit keledaimu. Bagaimana ia mampu melewati gurun pasir dengan cepat sekali, sedangkan waktu berangkat ke Makkah ia amat lamban,” temannya berseru. Halimah sendiri bingung, dan tidak bisa memberikan jawaban kepada teman-temannya.

Sampai di rumah pun, anak-anaknya senang, sebab orangtua mereka pulang lebih awal dari orang sekampungnya. Apalagi kemudian ayah mereka membawa air susu cukup banyak, yang tiada lain air susu unta tua renta yang kurus kering itu.

Dalam sekejap, kehidupan rumah tangga Halimah berubah total. Dan itu menjadi buah bibir di kampungnya. Mereka melihat, keluarga yang tadinya miskin tersebut hidup penuh kedamaian, kegembiraan, dan serba kecukupan.

Domba-domba yang mereka pelihara menjadi gemuk dan semakin banyak air susunya, walaupun rumput di daerah mereka tetap gersang. Keajaiban lagi!

Peternakan domba milik Halimah berkembang pesat, sementara domba-domba milik tetangga mereka tetap saja kurus kering. Padahal rumput yang dimakan sama. Karena itulah, mereka menyuruh anak-anak menggembalakan domba-domba mereka di dekat domba-domba milik Halimah. Namun hasilnya tetap saja sama, domba para tetangga itu tetap kurus kering.

Pembelahan Dada

Muhammad kecil disusui Halimah sekitar dua tahun. Oleh Halimah, bayi itu dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Namun ibunya mengharapkan agar Muhammad tetap ikut dirinya, sebab ia khawatir bayi yang sehat dan montok tersebut menjadi terganggu kesehatannya jika hidup di Makkah, yang kering dan kotor.

Maka Muhammad kecil pun dibawa kembali oleh Halimah ke dusun Bani Sa’ad. Bayi itu menjadi balita, dan telah mampu mengikuti saudara-saudaranya menggembala domba. Ingat, hampir semua nabi pernah menjadi penggembala. Muhammad saat itu sudah berusia empat tahun dan dapat berlari-lari lepas di padang rumput gurun pasir. la, bersama Abdullah, anak kandung Halimah, menggembala domba-domba mereka agak jauh dari rumah.

Di siang hari yang terik itu, tiba-tiba datanglah dua orang lelaki berpakaian putih. Mereka membawa Muhammad, yang sedang sendirian, ke tempat yang agak jauh dari tempat penggembalaan. Abdullah pada waktu itu sedang pulang, mengambil bekal untuk dimakan bersama-sama dengan Muhammad, di tempat menggembala, karena mereka lupa membawa bekal.

Ketika Abdullah kembali, Muhammad sudah tidak ada. Seketika itu juga ia menangis dan berteriak-teriak minta tolong sambil berlari pulang ke rumahnya. Halimah dan suaminya pun segera keluar dari rumahnya. Dengan tergopoh-gopoh mereka mencari Muhammad kesana-kemari. Beberapa saat kemudian, mereka mendapatinya sedang duduk termenung seorang diri di pinggir dusun tersebut.

Halimah langsung bertanya kepada Muhammad, “Mengapa engkau sampai berada di sini seorang diri?” Muhammad pun bercerita. “Mula-mula ada dua orang lelaki berpakaian serba putih datang mendekatiku. Salah seorang berkata kepada kawannya, ‘Inilah anaknya.’

Kawannya menyahut, `Ya, inilah dia!’ Sesudah itu, mereka membawaku ke sini. Di sini aku dibaringkan, dan salah seorang di antara mereka memegang tubuhku dengan kuatnya. Dadaku dibedahnya dengan pisau. Setelah itu, mereka mengambil suatu benda hitam dari dalam dadaku dan benda itu lalu dibuang. Aku tidak tahu apakah benda itu dan ke mana mereka membuangnya.

Setelah selesai, mereka pergi dengan segera. Aku pun tidak mengetahui ke mana mereka pergi, dan aku ditinggalkan di sini seorang diri.” Setelah kejadian itu, timbul kecemasan pada diri Halimah dan suaminya, kalau-kalau terjadi sesuatu terhadap si kecil Muhammad. Karena itulah, keduanya menyerahkan dia kembali kepada Ibunda Amina. [infokito]

Wallahu a’lam

Ref. http://iqbal1.wordpress.com/2009/10/10/tarikh-keajaiban2-kangjeng-nabi-muhammad-saw-semasa-kecil/

Oleh: korawa2 | Oktober 11, 2009

Rohani : Air Mata Rasulullah SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu”.
“Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu”, kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku“

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

NB:

Perbaikilah rukukmu untuk mengurangi tekanan maut dan perbanyaklah membaca shalawat kepada Rasulullah SAW terutama di hari Jum’at, Insya Allah kita akan mendapat syafa’atnya di dunia dan di Yaumil Mahsyar kelak… Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu di akhirat.

Oleh: korawa2 | September 27, 2009

Lulubaran ; “Mohon Ma’af Lahir dan Bathin”

salamanAssalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Kajurung laku nu palaur, kajajap rasa nu salempang, parantos janten kapastian jalmi bakal aya kalepatan, bilih kantos kasisit kasebit ati kapancah kateuhak ucap, kajenggut kajambak catur, katugal palebah lampah.

Neda tawakup anu kasuhun, jembar hampura nu diseja mugi tiasa ngaruwat lebetan manah nu rumaos pinuh ku bangbaluh pinuh ku rasa adigung, hapunten samudaya kalepatan, wilujeng Boboran Siam 1430 H .  ; “Taqobbalallohu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum, Wa Ja-alnallohu Minal A-iedz-dzien Wal Faidzien, Wa Antum Bil Khoer”.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

:)

K.O.R.A.W.A 

Oleh: korawa2 | Agustus 30, 2009

Z.8. Landong Baeud : “Simpatik”

simpatik“SIMPATIK” ; Entah apa sebabnya aku juga tidak mengerti tapi yang jelas secara bisik-bisik maupun terus terang banyak orang yang mengatakan aku jelek (jelek sebagai lawannya tampan/gagah/ganteng).

Kata orang aku berkulit hitam tanpa embel-embel manis dibelakangnya.

Pernah aku membela diri bahwa kulitku tidak sehitam jelaga, tapi tidak ada gunanya karena harus disampaikan pada semua orang, yang hanya  akan membuat capai saja,  dan utamanya tidak berpengaruh sama sekali karena orang sudah terlanjur punya gambaran kalau kulit yang bagus dan menawan itu kulit putih bersih.

Hari masih pagi sebagaimana intruksi dari dinas tiap hari Jum’at dianjurkan bagi karyawan untuk memakai baju batik, maka sebagai karyawan yang penuh loyalitas dan dedikasi serta semangat nasional yang menggebu, ditambah dengan harapan bahwa dengan memakai baju batik maka nilai penampilanku jadi naik.

Maka pagi itu sengaja aku memakai baju batik dengan warna cerah hasil seleksi kemarin di Pasar Baru, aku tidak berpikir  apakah corak dan warna dasarnya cocok dengan warna kulitku yang hitam manis kataku, tapi orang lain bilang hitam legam.

Pagi-pagi ketika 200 meteran sebelum masuk pintu gerbang, aku berpapasan dengan barisan anak-anak sekolah SMA yang lagi berolah raga, dengan percaya diri  aku memecah barisan itu, aku nekad menerobos barisan tanpa menunggu mereka lewat, harapanku tidak mendapat ledekan tapi mendapat simpati dari siswa2 tadi terutama siswinya, karena dengan baju baru aku merasa layak mendapatkan pujian, minimal melalui sorot mata, sukur sukur dengan kata kata, atau bahkan kalau bisa tersimpan dalam hatinya.

Dan rupanya taktik yang aku jalankan mendapat sambutan

“Simpatik… aduh… Simpatik “… mereka tertawa agak riuh rendah

Dadaku bergetar senang, harapan tercapai,  nafasku sampai terengah karena saking bangganya. Namun mendadak kupingku lamat lamat mendengar, karena rombongan menjauh dari tempat aku berpijak.

“Simpatik,  SIMpanse PAkai baTIK

Mendadak nafasku menjadi terengah kembali bukan bangga tapi  marah

“Kurang uajarrrr…!”.

 (Joe MD)

Oleh: korawa2 | Agustus 19, 2009

Z.8. Landong Baeud : “Kencleng…”

Z.8. Landong Baeud : “Kencleng…”

Basa Juma-ah kamari Kuring di masigit teh ngarendeng jeung Pa Haji DS. Acan oge dua menit Khotib naek mimbar, Pa Haji ngalenggut nundutan.

500Waktu kotak kencleng ngageser kahareupeunana, satengah ngalindur Pa Haji  kadak-kodok kana saku tukang. Maksudna neangan duit receh 500 atawa 1000 perak. Rada hese nyokotna teh, tapi akhirna manggih. Langsung diasupkeun kana liang kencleng.

Pas pisan kotak kencleng rek digeserkeun deui, aya nu noel ti tukangeun bari nyodorkeun duit lambaran Rp. 50.000.-.

“Deuh… mani gede nyumbang teh, jeung mani agul, padahal engke we, da kencleng teh pasti nguriling ka tempat manehna”. Harewos Pa Haji ka Kuring bari tetep nampanan duit, langsung didedet-dedet kana liang kencleng. Blus weh duit teh asup, langsung kencleng digeserkeun kanu gigireun.

“Pa…pa… artos tadi teh artos Bapa, nu ragrag waktos kadak-kodok ka saku pengker”. Harewos nu ditukang bari noel.

Pa Haji ngarenghap bari panonna neuteup kotak kencleng nu ngageser beuki ngajauhan …. Ningali kitu kuring ngan bisa imut kanjut…. jut…

(Endang Rochimat)

Oleh: korawa2 | Juli 29, 2009

Fenomena Masjid Kawah Galunggung

HJ.OKG

 Fenomena Masjid Kawah Galunggung ;

GalunggungKonon kabarnya, masjid ini mulanya berada di atas puncak Gn. Galunggung. Ketika di tahun 1982 Gn. Galunggung meletus, yang meluluh lantakkan sekitarnya, masjid ini tetap utuh berdiri tidak bergeming.  Malahan dengan menurunnya permukaan, masjid ini turun pula mengikuti permukaan baru, dan tetap berdiri seperti sediakala tanpa mengalami kerusakan pengaruh letusan.  Sekarang keberadaan masjid ini menjadi di area  ‘lokasi kawah’, permukaan dasar Gn. Galunggung, menjadi salah satu dari fenomena keajaiban alam tentunya.

Jika kejadian seperti kabar di atas benar, kenyataan ini adalah mumkin, tidak mustahil, atau boleh dan bisa saja terjadi. Sebab hal ini masuk dalam kategori ‘khawarikul adat’, yaitu kejadian yang ‘menyimpang’ dari hukum kausalitas, tidak mengikuti hukum sebab-akibat, atau tidak sesuai menurut adat kebiasaan karena tidak seperti itu logikanya. Ada misteri memang.

Khawarikul adat, adalah juga sunatulloh. Ketentuan yang tunduk kepada hukum alam dalam domain yang diatur oleh Kekuasaan Alloh SWT. Bab ini melekat pada kajian sifat2 yang wajib, mustahil dan jaiz bagi Alloh SWT, yaitu Sifat Qudrot (Berkuasa) dan Sifat Iradat (Berkehendak). Mustahil Alloh SWT Lemah atau Terpaksa. Dalam kejadian ‘khawarikul adat’ ini Alloh SWT, ‘jaiz’ (wenang) menunjukkan kekuasaan-Nya terhadap sesuatu hal yang mumkin dikehendaki-Nya. Jika Ia berkehendak ada atau jadi, maka akan ada atau jadilah. Jika Ia berkehendak tidak ada atau tidak jadi, maka tidak akan ada atau tidak akan terjadi. Bagi Alloh SWT biasa saja, tidak ada yang tidak bisa.

Qudrot dan Irodlat Alloh SWT tidak bergantung kepada sesuatu yang lain, mengikuti hukum alam misalnya. Bergantung adalah sifat lemah yang mustahil bagi-Nya. Dalam masalah ini dikenal adanya kejadian ‘luar biasa’ yang terjadi pada sesuatu yang dikehendaki-Nya, seperti irhasy, mukjizat, karomah, maunah, berkah, istijrad, dan bahkan sihir. Dalam hal fenomena masjid kawah Galungggung , bisa jadi karena salah satu yang sesuai dari faktor2 ini dilimpahkan-Nya. Maka pada waktu terjadinya letusan yang cukup dahsyat itu, masjid Galunggung tidak mengalami kehancuran seperti yang melanda area lingkungan sekitarnya. Benar, Maha Suci Alloh pencipta, pengatur dan pemelihara alam untuk bisa berbuat yang tidak mungkin menurut mahluk.

Hal ini senantiasa menjadi pengingat akan Kesempurnaan Alloh SWT yang satu dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya dan Af’al-Nya. Sebagai satu2nya Dzat yang mempunyai hak untuk diibadahi. Tempat meminta dan bergantungnya segala urusan. Tanpa ada serikat atau sesuatupun yang dapat menyamai bagi-Nya. Kita diperintah berlomba untuk selalu berusaha berfikir, berkata dan bertindak sesuai dengan yang diridho-i-Nya. Dan, inilah sebenarnya esensi etimologi ‘Galunggung’ ; sagulung-sagalang, sagulang-saguling, ngagalunggung ngabdi ka Yang Agung. Panceg dalam i’tiqod, syare’at, ma’rifat jeung hakekat, mengikuti perilaku sholihien,  contoh Imamul Muttaqien Rasululloh SAW, utusan-Nya. 

Waktu singgah di masjid ini, bersama-sama melaksanakan ‘tahiyyatul masjid’, sholat dhuhur dan ashar, secara jama ta’dhiem dengan qoshor, Cag ah..

Wallohu ‘alam.

 P5280078

Oleh: korawa2 | Juli 28, 2009

Z.8. Landong Baeud ; “Oleh-oleh”

Subject : Carpon Sunda oleh-oleh

Ngabudi-UcingLeungeun muntang pageuh kana tali anu memang geus disadiakeun keur pamuntangan. Pinuh pisan panumpang teh.

Ngahaja kuring naek “Baswey”   ambeh rada ngirit. Naek tihareupeun Gambir nu ka Harmoni, transit tidinya disambung ka Blok M. Murah meriah mun dibanding naek taksi. Bisa sapuluh kali lipetna.

Basa keur jongjon nalingakeun jalan anu kaliwatan, suku aya nu nincak, lumayan nyeri, bari satengah dikejetkeun kuring ngalieuk bari rada ambek kanu nincak the.

“Aduh maaf ya Pak !!”, ceuk manehna bari melong.

Nutadina rek ambek teh ngadak-ngadak kuring someah darehdeh, mun bisa hayang katincak deui, bae rada lila oge.

Kumaha teu rek kitu nu nincak teh mojang lenjang pisan, soca cureuleuk, angkeut endog sapotong, nganggo jilbab, lancingan ngepas nyitak pisan. Atuh oge kitu kameja nu dipake inyana teh, pas pisan.

“Oh ngga pa pa de ”. Ceuk kuring bari satekah polah mere imut nu pang manisna.

“Bapa mo turun dimana?”. Pokna bari awakna tambah rapet ka kuring, seungit kaangseu , hate beuki tagiwur aya nu motah. Panumpang beuki pinuh anu ngalantaran jarak awak kuring jeung manehna beuki rapet bae.
“Oh Saya turun di Mesjid Agung , Adek ??”. Cekeng teh bari melong anteb ka manehna. Panyakit rumaja mimiti nguniang hudang

“Saya mau ke Blok M”. Pokna bari.Gep puhu leungeun kuirng di cekel pageuh pisan. waktu supir rada ngerem ngadadak.

Gusti ieu hate beuki ratug bae, beu aya kulindeuk ieu mojang kota the. Hate tambah tagiwur, asa sapokpokkeun rek nanyakeun no hp , tapi ras inget hp teh jadul pisan asa teu wasa rek ngaluarkeun hp dipayuneun si cantik the.

Keur uleng mikir kumaha carana bisa – “berkenalan  lebih jauh” – jeung manehna, aya panumpang  hareupeun  nu diuk dina korsi cengkat , rek turun di halteu Karet.
”Duduk De..!!”. Ceuk kuring ka si mojang , niat teh mintonkeun ”ka Heroan”  jeung ”ka Gentlemanan” Kuring ka manehna.
”Bapa Saja Pa yang duduk..Saya kuat kok , Kasian, Bapa yang  SUDAH TUA saja yang duduk”. Ceuk Maneh na teuteup bari imut.

Ngan karasana ku kuring imut ieu lain imut nu manis, tapi imut anu pait, nembus jajantung bari ngageterkeun hate.

-SUDAH TUA???- ; Kuring beuki keu-eung mikiran timbangan diri nu masih dengdek ngenca.

 

Cag.
(Endang Rochimat, Kolot Bedegong)

P1000420Subject : De Galunggung Tour Adventure Programme 

  • Berangkat Hari / Tgl. : SABTU, 25 Juli 2009.
  • Tujuan : Destinasi Gn. Galunggung – Tasikmalaya. Dskt.

A. Pooling Keberangkatan : Wilayah Barat ; Kumpul di POM Bensin Bunderan Soekarno Hatta. Wilayah Timur ; Kumpul di Bunderan Cileunyi. Berangkat Jam 06.30. Check Point Keberangkatan : Bunderan Cibiru Jam 07.00.

B. Route Keberangkatan :  Jl. Raya Cibiru – Cileunyi – Ranca-ekek – Parakanmuncang – Nagreg – Limbangan – Malangbong – Ciawi – Indihiang – Tasikmalaya – Gn. Galunggung.

C. Adventure : Naik Tangga 602 Trap ; Turun Kawah ; Masjid Kawah ;  Out Bound ; Air Panas, dll.

D. Route Pulang : Gn. Galunggung – Singaparna – Salawu – Garut – Tarogong – Cijapati – Cileunyi – Bandung.

E. Posisi Touring : Captent Chief Leader, Vice Leader, Vooridersj, Sweeppers, Routers, Mechanic, Emergency Aids, Check Point Area, Photografer ; Logistic ; Riders, Group Leader (1 : 5), Others.

F. Pepeling : Perencanaan, waspada, berdu’a… Insya Alloh aman, lancar dan selamat di tujuan. Amien….

;)

Oleh: korawa2 | Juli 22, 2009

Cerita Pendek ; “SEKUTER TELOR BEBEK”

AboutReza kaget amat sangat ketika berangkat sekolah dan sedang asyik-asyiknya berkendara naik sekuter tahun tujuhpuluhan pinjaman dari ayahnya, tiba-tiba dari samping sebelah kiri wuuussss motor bebek merah keluaran tahun mutakhir menyalib tanpa membunyikan klakson, hati laki-lakinya langsung panas, mendadak terasa seperti koyak bajunya, dan yang membuatnya lebih parah melebihi si Komeng dan Deddy Mizwar adalah karena yang barusan menyalib itu cewek, soalnya helmnya merah jambu dan ada kupingnya.

“Kamu pasti Lia, cewek jutek paling nyebelin” itu kata hatinya yang panas membara, tapi kata otaknya, “ Lia anak tiga sepuluh, yang nama lengkapnya Amelia Wulandari itu memang cantik dan manis, terutama lesung pipitnya”, Tapi yang jelas terlontar dari mulut Reza adalah “Sialan lo”!” mulutnya bersungut malu karena tak mampu mengejar motor yang dimaksudkan.

Dalam sekejap motor bebek merah keluaran tahun mutakhir sudah jauh dari pandangan dan sebagaimana mestinya sekuter tua biru abu-abu telor bebek tetap merayap lambat mengantarkan si pengendara semampunya.

Mau protes ke ayah tidak tega, karena demi menaikkan harkat anaknya yang sudah kesekian kali memohon untuk dipinjami, sang ayah hari ini rela naik angkutan umum untuk pergi mengajar ke SD di sebelah kantor kecamatan.

“Yah tolong deh hari ini Reza pinjam motor ayah, temanku ada yang ulang tahun, jadi pengin dong, sekali-kali pergi rame-rame bawa motor sendiri”, padahal hari ini tidak ada temannya yang akan ulang tahun, yang jelas benar hari ini akan ada ulangan matematika dari pak Walijan yang sekaligus juga wali kelas Reza.

Akan halnya ayahnya, dia tidak ingin dan tidak perlu tahu apakah hari ini ada yang ulang tahun, ataukah hari ini ada ulangan matematika pak Walijan, yang dia tahu, sebagai seorang ayah tak akan mampu mencegah kemauan Reza anaknya, karena dalam hati memaklumi dan mengerti, umur seusia anaknya memang lagi masa-masanya ingin mengaktualisasikan diri siapa dia.

Walaupun hanya sekuter tua tahun tujuhpuluhan namun termasuk juga sepeda motor, jadi dia maklum kalau anaknya ternyata menarik garis pembatas bagi dirinya dengan teman-teman yang lain,

Dia merasa bahwa dia masih masuk kedalam garis anak yang punya sepeda motor, jadi masih bisa merasa bangga dibandingkan dengan anak yang tidak punya sepeda motor.

Dengan kesimpulan itu Reza menempatkan diri sebagai salah satu dari komunitas “yang punya sepeda motor”, maka dia pun mesti mulai bergaul dengan teman yang dianggap segaris.

Dan ternyata benar walaupun hanya sekuter tua, namun mampu menambah rasa percaya diri (PD) nya, jalannya menjadi semakin tegak dan apa yang diharapkan ternyata benar, Andy yang kesekolah naik motor bebek matic warna hitam keluaran tahun dua ribuan terbukti langsung menyapanya, waktu ketemu ditempat parkiran samping gerbang.

“Eza!, lo barusan naik motor juga ya?”.

“iya tuch!, sekuter tua punya babe, jalannya ngerayap dan suka ngadat lagi!”.

“Jangan under estimate lo, siapa tau motor elo bawa hoki, barusan si Lia anak tiga sepuluh nanyain elo ke saya!..”

“ Ah yang bener aja!.. “ Reza setengah tak percaya, masa iya si Lia tahu kalau dia naik motor,. masa iya Lia anak lain kelas yang terkenal jutek dan sombong itu perhatian ama gue, jangan-jangan yang tadi nyalib itu bener-benar dia, perasaan Reza berkecamuk antara percaya dan tak percaya.

Reza tak sabar ingin membuktikan kata-kata Andy, begitu ulangan matematika selesai dan bel istirahat berbunyi, bergegas Reza keluar dan memacu langkahnya mencari Lia, menurut kebiasaannya cewek semacam Lia dan teman-temannya, jam istirahat ini sudah ada di kantin baso ceker mas Parmin, penjaga sekolah.

“Hai Lia..!” dari jauh sudah terbayang dikepala Reza, ingin mengatakan itu pada Lia dengan bibir mengembang penuh arti.

“Hai juga… Aduhh Reza makin ca’em aja lho.. kamu sekarang sekolah pakai motor ya!!?.. “ dan itu juga bayangan perkiraan jawaban yang akan diterima dari Lia si Jutek yang kini menyerah didepan si Telor Bebek

Namun belum sempat Reza melanjutkan lamunan dan mengeluarkan rangkaian kata-kata yang direncanakan, tiba-tiba dari balik pagar pohon Beluntas dekat kamar mandi, muncul cewek-cewek berwajah aneh dan nyinyir., lalu si jutek Lia beserta gangnya keluar dengan angkuhnya,

Paduan suara gang nya yang sumbang alias cempreng keras melengking seperti koor nenek2 sihir

“Se..ku..ter, !!.. ………. : .Selebritis kurang terkenal…..

“Te..lor.. Be..Bek,.!!! …..: Terus molor dan Belagak Beken!!”,…

“ huuuuuuuuuuuuuuuuuuu !!!.

Seperti terkena sambaran geledek, dada yang tadi dibusungkan menjadi terengah, nafasnya tersendat,, “Goblok lo Andy ngerjain gue”

wajah Reza yang tadi telor bebek mendadak berubah menjadi merah jambu (monyet).

3 Jam sesudah itu, waktu sepulang sekolah walaupun hati dan perasaan masih panas akibat ulah Lia Jutek dan gangnya tadi siang, Reza tetap mencoba menangani semua masalahnya sesuai dengan kemampuannya.

Malahan sekuter telor bebek tahun tujuhpuluhan itu, kini dipacu dalam kecepatan sedang, dan sedikit santai, teriknya mentari terkalahkan oleh terpaan angin yang menyapu tubuhnya, getaran lengan bajunya yang terkena angin samping seperti menyemburkan hawa dingin dan sekaligus mengibaskan keinginan balas dendamnya terhadap Lia Jutek beserta gangnya “Biarin saja lah, semuanya pasti akan berlalu” pikirnya dalam hati.

Sedang enak-enaknya menggembalakan pikirannya, tiba-tiba agak jauh didepannya kira-kira hampir mendekati persilangan kereta api, dilihatnya banyak orang bergerombol “ada apa ya. ?”

Setelah hampir mendekati kerumunan orang, Reza segera memparkirkan motornya dan mendekati arah peristiwa yang menjadi pusat pehatian orang-orang. ” Astaga……”

Demi Tuhan, yang dilihatnya adalah Lia, mata Reza memang tidak salah, itu adalah Lia si jutek orang yang tiga jam lalu memperoloknya didepan kantin bakso ceker mas Parmin dengan kata-kata “Sekuter Telor Bebek”.

Dan yang paling membuatnya heran setengah mati, Lia si jutek kini tengah berdiri dengan wajah merah padam karena malu, disamping malu karena di kerumuni banyak orang, terutama juga karena bajunya berlepotan cairan kuning kental diseluruh bagian seragam sekolahnya, rupa-rupanya, ban motor Lia jutek tergelincir masuk ke alur rel yang melintas jalan, dan entah karena apa, setangnya menjadi tidak terkendali, dan menabrak sepeda tukang telor bebek yang diparkir ditepian jalan karena pemiliknya menagih ke kios seberangnya, tak pelak lagi telor bebek dikeranjang sepeda pada pecah dihajar bodi motor bebek Lia, dan tak ampun lagi meskipun tidak sampai mengalami luka yang berarti, tapi cairan telor berhamburan menyiram seragam putih abu-abunya, wajahnya pucat dan kebingungan .

Demi melihat kejadian itu Reza seketika ingin membalas sakit hati bekas kejadian tadi pagi, namun setelah melihat wajah Lia si jutek yang kini pucat pasi dia jadi tidak tega, dan ketika kemudian dilihatnya sudah ada beberapa warga dan seorang Polwan yang mengurusnya, Reza segera pergi dari tempat itu, Reza tak ingin Lia melihatnya, bagaimanapun juga Lia sangat manis dan memikat hati, diam-diam Reza pergi, mulutnya tetap terkunci tapi hatinya bersiul.

Keesokan harinya Reza kesekolah tidak naik sekuter telor bebek, tetapi kembali seperti biasa lagi, yaitu naik angkot, tapi meskipun demikian, ketika waktu istirahat datang, hatinya mantap sekali mendekati Lia si Jutek beserta gangnya di dekat pagar pohon beluntas dekat kamar mandi didepan kantin baso ceker mas Parmin, kepalanya menyimpan rencana.

Ketika dirasa sudah sangat dekat dengan posisi Lia si Jutek dan gangnya, terdengar suara Reza yang diawali batuk-batuk .

“ Ehm Ehm … Telor Bebek dipinggir Rel Kereta!…”.

“Jelasss! Deeeh! berlepotannn! ….Ehm.. ehm..”.

Seketika Lia si Jutek beserta gangnya diam seribu bahasa, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, sangat berlawanan sekali dengan bunyi koor seperti yang kemarin itu.

Dan entah mantra apa yang dibacakan oleh Reza terhadap Lia, tetapi fakta membuktikan tiga hari terhitung hari itu, Andy menegur Reza didepan pintu ruang kelasnya

“Eza gua gak salah liat nih!, kamu tadi ngeboncengin Lia ya??!”

Reza tak menghiraukan pertanyaan Andy, juga guru matematika alias pak Walijan yang baru saja masuk ruang kelas, karena masih asyik merasakan kehangatan tubuh Lia yang menempel ditubuhnya lima menit yang lalu.

(JOE.MD)

Oleh: korawa2 | Juli 11, 2009

Alutsista dan Presiden RI

Slide7Kunjungan Kenegaraan Presiden Republik Indonesia dalam rangka serah terima Panser Angkut Penumpang Sedang APS 6 x 6 M kepada Departemen Pertahanan dan Keamanan ; tgl. 10 Juli 2009, Jam 10 WIB.

IMG_6730[1]-Panser

P5210149KAWAH KAMOJANG ; Terletak di perbatasan Kab. Bandung – Kab. Garut. Di sini juga merupakan lingkungan sumur Geothermal Pertamina dan Pembangkit Listrik (PLTP). Di tiket masuk tertulis “Wana Wisata Pemandian Air Panas Kawah Kamojang”, setelah sampai di sana… ternyata… bukan sembarang Pemandian Air Panas…

Gitu masuk akan ketemu kawah Manuk yang berupa kolam belerang berasap. Masih panas pa ya? Trus beberapa puluh meter jalan ada kawah Berecek berupa kolam lumpur yang udah gak ngepul-ngepul, jadi kayak becekan ajah gitu. Sesuai namanya. Nah dari sini agak naik tangga dikit dan ketemu kawah Kereta Api. Berupa Gas yang keluar dari pipa dengan tekanan besar hingga asapnya membubung ke atas tegak lurus gitu. Suaranya bergemuruh macam kereta api, makanya diberi nama Kawah Kereta Api nii kali ya. Jalan dikit di deket jembatan ada kawah Stikgas, duhh bener gak ya nih namanya. Gak inget bener yang ini. Ada dibawah jembatan dengan lobang besar yang ngeluarin gas. Kawah-2 tersebut ada dikanan-kiri jalan kita buat menuju Kawah Hujan. Berupa kumpulan kawah-kawah yang secara ritmik menyemprotkan air ke udara selain uap panas. Ada yang airnya nyembur vertikal dan turun bak ujan gerimis. Mungkin karenanya disebut kawah hujan. Airnya panas bangetz deh ampe kaget-kaget pas kenanya.. Nah air ini nih yang pada dipakai buat mandi.. tapi kebanyakan orang mandi uapnya, karena ditengah kawah hujan ini ada tempat berdiri didepan kawah yang ngeluarin uap panas. Orang-orang berkumpul disini buat mandi uap. Gue juga.. hehe.. :)
(Ref. http://aamii.multiply.com/journal)

Oleh: korawa2 | Juli 1, 2009

C.3.4. Uji Nyali ; “Kamojang Extremme…”

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.